ini adalah hari ke 7 semenjak kepergian robit. mungkin aku memang keterlalluan meratapi kesedihan ini. namun, siapa yang tidak akan bersedih saat orang yang sangat dicintai, harus pergi untuk selamanya. dan saat ini, aku merasakan hal itu.
angin pagi menerpa wajahku saat aku memasuki gerbang sekolah. aku melangkah gontai, rupanya rasa malas masih menghinggapi pikiranku. huh hari ini aku harus duduk sendiri lagi. tidak ada tawa robit. uh! jangankan tawanya, sekedar bayangannya-pun mustahil kudapati.
aku terperanjat. diam sepersekian detik saat aku membuka pintu kelas. kudapati sesosok manusia yang sudah 7 hari ini bertebaran di pikiranku. aku menangkap sebuah senyum dari bibirnya saat menatapku. robit duduk di bangku kami. tubuhku bergetar tanpa kutahu sebab pastinya.
"pagi dien.." sapa pemilik senyum itu. aku masih kaku pada tempatku. tidak bergerak sedikitpun.
percaya dan tidak percaya. kalimat itu yang terus berkecamuk di hati saat aku mendengar berita meninggalnya robit akibat kecelakaan lalu lintas 1 minggu yang lalu. tapi hari ini, di antara percaya dan tidak percaya lagi, sosok itu, hadir dalam keadaan baik. tanpa kurang suatu apapun.
***
sungguhpun robin sangat serupa dengan robit, tetap robin bukanlah robit.
***
tanpa terasa, ini adalah hari ke-40 perginya robit dari hidupku. dan aku tidak pernah menghitung ini hari ke berapa sejak pertemuan pertamaku dengan robin, yang aku tahu pasti, selama ini aku tidak pernah bersikap baik padanya. aku merasakan robin memiliki sesuatu yang lebih daripada robit, tetap saja aku tidak bisa menerima kehadirannya. dan aku juga tidak tahu apa hal yang lebih dari robin.aku mendorong pintu kelas dengan agak tergesa. sebab aku tahu, aku nyaris terlamabat. aku menuju bangkuku yang kosong tak berpenghuni. tidak ada robin yang menyambut kedatanganku dengan senyum, apalagi robit, pasti lebih mustahil lagi.
aku menari kursi yang masih rapi di depan meja. sebelum sempat duduk, terlihat secarik kertas di atasnya. setelah aku memungutnya, ku amati sejenak. aku sadra ini seperti sebuah surat. lalu aku mulai membaca.
"adien.. mungkin ini terlalu norak buat kamu. aku nggak tau harus memulai darimana untuk mengakui dosa yang telah aku perbuat pada saudaraku. aku tidak pernah bermaksud masuk dalam kehidupanmu. samapi waktu itu datang. waktu, dimana tangan robit mulai mendingin, dia ingin aku mejaga kamu. sudah selayaknya aku meminta maaf kepada kamu dien. aku aku sudah terlalu bodoh untuk jatuh cinta sama kamu. aku tahu nggak seharusnya ku menyimpan rasa itu. oleh karena itu, saat kertas ini pada genggamanmu, sudah pasti aku tidak akan ada lagi di sekitar kehidupanmu. karena aku sadar, kehadirnku pada kehidupanmu, adalah pada waktu yang sama sekali tidak tepat. dimana hatimu baru saja teriris oleh kehilangan. kehilangan saudaraku, Robbit Farhan Reynaldi yang sampai detik ini masih melekat di hatimu.
dien, sampai kapanpun aku mau mengunggu. sampai hatimu mau menerima Robbin Farhan Reynaldi untuk menjadi pengganti Robbit Farhan Reynaldi. tetapi bukan untuk menjadi Robbit Farhan Reynaldi"
~Robbin F. Reynaldi~
Seketika itu, tanpa sekehendakku. tiba-tiba mataku terasa hangat. butiran bening tak henti-hentinya mengalir. aku baru tersadar kalau hatiku sakit. entah sakit sebab aku baru saja mengabaikan rasa yang tulus dari robin, atau aku baru saja kehilangan rasa cintaku pada robit.


